29 November 2021

Mudik Dilarang, Apakah Aglomerasi Menjadi Solusi?

3 min read

Sumber : Pinterest

Ottifo.com – Kementerian Perhubungan (kemenhub) telah mengeluarkan Permenhub Nomor 25 tahun 2020 yang mengatur tentang larangan mudik hari raya idul fitri 1442 H atau mudik lebaran, terhitung mulai tanggal 6 hingga 17 Mei 2021. Ini dilakukan agar dapat mengendalikan roda transportasi selama mudik tahun ini ditengah pandemi virus corona. Uniknya, terdapat kata-kata asing yang jarang diketahui oleh masyarakat pada pasal 2 poin c mengenai pelarangan sementara penggunaan transportasi darat yang menyebutkan tentang ‘aglomerasi’. Tak hanya itu, kata ini juga muncul pada pasal 14 tentang kapal penumpang yang melayani transportasi rutin nonmudik di lokasi terbatas dalam satu aglomerasi kecamatan, kabupaten hingga provinsi.

Dalam peraturan tersebut, memang tak dijelaskan lebih dalam mengenai apa itu aglomerasi. Mengingat Permenhub juga tidak memuat pasal Ketentuan Umum yang biasanya berisi tentang batasan umum dan definisi. Dilansir dari Regional Kontan, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, memaknai aglomerasi sebagai warga diizinkan untuk melakukan mudik lokal atau perjalanan antar kabupaten atau kota yang saling terhubung satu sama lain. Selain dari segi geografis, aglomerasi terhubung dalam satu kawasan pertumbuhan strategis. Budi Setiyadi juga mengartikan bahwa mudik lokal artinya warga masih berada di wilayah aglomerasi. Nantinya, aturan soal mudik lokal ini akan tetap diatur lewat surat edaran dari pemerintah. Jadi, dapat dipastikan warga yang ingin melakukan mudik di wilayah aglomerasi diperbolehkan perjalanan dengan transportasi darat. Diantaranya seperti sepeda motor, mobil, bus bahkan kereta.

Seperti mengutip dari Detik News, juru bicara Kemenhub Aditia Irawati menyatakan “Mobilitas masyarakat masih diperbolehkan, (namun) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Selain itu, transportasi umum di wilayah ini akan dibatasi armada, frekuensi, dan kapasitasnya,” ujarnya. Sementara dalam pemberlakuan di lapangan, ia juga menjelaskan bahwa pengawasan terkait cara petugas membedakan perjalanan esensial di wilayah aglomerasi dan perjalanan mudik lokal akan berlandaskan dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro. Oleh karena itu, perlu di catat bahwa meskipun adanya perizinan mudik di beberapa wilayah aglomerasi ini, pemerintah tetap menghimbau agar masyarakatnya tetap menaati protokol kesehatan.

Sementara itu, pemerintah telah menginformasikan terdapat 8 wilayah yang termasuk ke dalam aglomerasi di Indonesia. Diantaranya :

  1. Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Karo (Mebidangro)
  2. Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek)
  3. Bandung
  4. Semarang, Demak, Kendal, Purwodadi, dan Ungaran
  5. Jogja
  6. Solo
  7. Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Lamongan (Gerbangkertosusila)
  8. Makassar, Takalar, Sungguminasa, dan Maros

Lantas, apakah aglomerasi ini menjadi solusi?

Memang telah dijelaskan bahwa aglomerasi diartikan sebagai pengumpulan atau pemusatan dalam lokasi di kawasan tertentu, lebih jauh lagi beberapa masyarakat mengartikan aglomerasi erat kaitannya dengan mudik lokal. Jika di suatu kawasan terjadi mudik lokal, dapat dipastikan bahwa beberapa masyarakat akan bersilaturahmi dengan keluarga maupun kerabat terdekatnya. Dengan adanya silaturahmi, tentu akan diiringi dengan salam-salaman, berjabat tangan, atau bahkan cipika-cipiki yang khas dengan budaya kita di Indonesia.

Dengan melihat keadaan ini, tentu mudik lokal di wilayah aglomerasi sangat tidak dianjurkan. Ada dua hal yang dikhawatirkan akan terjadi jika masyarakat masih tak mengindahkan aturan social distancing ditengah pandemi ini. Pertama ialah sirkulasi varian virus mutasi dari luar negeri berpotensi lebih berbahaya. Dilansir dari Regional Kontan, saat ini varian Covid-19, B.1.617 yang berasal dari India sudah terdeteksi di Indonesia. Varian virus ini dianggap menular dan menyebar jauh lebih cepat. Hasil mutasi ganda ini dapat mengakibatkan orang yang telah pulih dari infeksi Covid-19 tetap rentan terinfeksi. Kedua, berkaca pada lonjakan kasus yang terjadi di India akibat dari adanya pertemuan massal dan rendahnya tingkat vaksinasi serta kesadaran individu yang ada didalamnya. Seharusnya ini menjadi perhatian khusus bagi masyarakat Indonesia yang masih ingin bersilaturahmi fisik dengan alasan mudik.

Berkaca pada bahaya tersebut, seharusnya masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jangan sampai keserakahan itu lantas menjadi bahaya baru baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, untuk kamu sobat OT dirumah diharapkan agar tetap menjaga jarak dan menaati peraturan yang berlaku ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *