2 Desember 2021

Rekam Kelam Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta – Bandung

4 min read

Ottifo.com – Proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung merupakan program pembangunan milik PT KCIC (Kereta Cepat Indonesia – China). Hingga saat ini proyek ini sudah menempuh 64,4% yang mencakup selesainya 5 dari 13 terowongan. Namun dalam proses pembangunan, ada beberapa rekam kelam yang berimbas terhadap warga sekitar.

Potret pekerja saat berada di dalam jalur terowongan Kereta Cepat Jakarta – Bandung

Hingga saat ini, sudah terdapat beberapa dampak negatif dalam proyek ini. Pertama, pembangunan proyek ini kurang memperhatikan kelancaran akses jalan keluar masuk tol dan akhirnya berimbas pada kelancaran jalan tol maupun non tol.

Kedua, menurut Danis Hidayat Sumadilaga (Ketua Komite Keselamatan Kontruksi), ia mengatakan bahwa pembangunan proyek tersebut kurang memperhatikan management proyek di mana terjadi penggeletakan material di bahu jalan yang menumpuk, sehingga mengganggu fungsi drainase kebersihan dan keselamatan pengguna jalan.

Kemudian ketiga, pembangunan tersebut mengakibatkan genangan air pada tol Jakarta-Cikampek yang menyebabkan kemacetan luar biasa pada ruas jalan tol dan mengganggu kelancaran logistik. Selanjutnya, pembangunan Kereta Cepat ini berakibat menggenangnya air pada tol Cikampek yang menyebabkan kemacetan luar biasa pada ruas jalan tol dan mengganggu kelancaran jalannya transportasi khususnya logistik.

Kemudian yang keempat pengelolaan drainase yang buruk dan keterlambatan pembangunan saluran memicu terjadinya banjir di jalan tol. Kelima, pembangunan pilar LRT yang dikerjakan oleh PT KCIC di KM 3 +800 masih tanpa izin sehingga dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Bukan itu saja, program yang bekerja sama dengan China Development Bank juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan imbas langsung terhadap warga sekitar khusunya warga Perumahan Tipar Silih Asih khususnya RW 13 yang berada di Desa Laksanamekar, Kabupaten Bandung Barat.

Meninjau dari video Indonesia Lawyers Club yang diunggah di Youtube, semua rumah (120) di RW 13 Perumahan Tipar Silih Asih terkena dampak berupa retakan. Beberapa warga Perumahan tersebut ada yang meninggalkan rumah, karena merasa tidak aman lagi. Menurut Rudiyanto selaku Ketua RW 13 Perumahan Tipar Silih Asih, pihak PT KCIC awalnya izin dengan melakukan pengeboran. Namun banyak warga yang menolak akan cara tersebut. Seiring pembangunan berjalan, mereka menggunakan dinamit untuk membuka jalur terowongan.

Setelah dilakukan blasting sebanyak 8 kali, pihak PT KCIC bekerja sama dengan Tim LAPI ITB untuk membantu warga sekitar. Pihak LAPI ITB pun tidak bisa menjelaskan jika retaknya rumah warga dikarenakan ledakan pada saat pembuatan terowongan. LAPI ITB membantu dengan sosialisasi dan pemasangan crack meter (alat untuk mengukur lebar retakan). Akan tetapi, jika saja Tim LAPI ITB datang sebelum peledakan tanah dimulai, mungkin mereka bisa mengetahui bahwa proyek pembangunan ini berdampak terhadap lingkungan dan warga sekitar.

Pro dan kontra terhadap proyek ini tidak bisa dihindarkan. Salah satu dampaknya dapat dilihat dari ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan Hidup). Menurut Meiki Paendong selaku Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, mereka berani mengklaim bahwa dampak negatifnya sudah muncul dan terasa dari proyek ini. Selain berdampak pada lingkungan ia juga berkata bahwasanya sudah ada dampak negatif seperti konflik pembebasan lahan, maksudnya sosialisasi terhadap publik tidak bermakna sama sekali.

Menurut Meiki, proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung ini memang ditujukan kepada kalangan masyarakat menengah ke atas. Masyarakat di bawahnya tidak bisa menggunakan sarana transportasi tersebut dikarenakan wilayah, lingkungan maupun finansial dari segi ekonomi yang tidak mendukung. Sekelas proyek sebesar ini, ANDAL yang dibuat terkesan masih begitu lemah. Banyak celah yang tidak tertutup atau kesalahan-kesalahan dalam proses analisa sehingga saat proyek berlangsung berdampak kepada masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Dan yang terakhir, pada tanggal 19 kemarin Presiden Jokowi mengumumkan kabar soal progres proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang sudah sangat signifikan capaiannya. Bila tak ada aral melintang, akhir tahun depan masyarakat Indonesia sudah bisa merasakan sensasi naik kereta cepat.

Presiden Joko Widodo pada saat kunjungan kerja ke tempat pembangunan Kereta Cepat Jakarta – Bandung

Jokowi bahkan melalui akun media sosialnya mengungkapkan, adanya kereta cepat maka waktu tempuh Jakarta-Bandung bisa hanya 46 menit. Bandingkan dengan kendaraan mobil pribadi via tol bisa mencapai sekitar 2  jam. Sedangkan untuk kereta konvensional bisa mencapai 3-3,5 jam.

Jokowi juga mengatakan progres pembangunan proyek ini terus dikerjakan seperti terowongan. Terowongan ini melintas di bawah tol Jakarta-Cikampek. Jokowi membeberkan bahwa panjangnya 1.885 meter, dan seperti itulah terowongan yang akan dilalui kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang sedang dibangun.

Rangkaian kereta cepat akan bermula dari Stasiun Halim, Jakarta, sebagai stasiun keberangkatan sekaligus kedatangan, dan berakhir di Stasiun Tegalluar, Bandung.

Jokowi berharap, agar nantinya kereta cepat ini dapat terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti LRT dan MRT di Jakarta. Beliau juga menambahkan dari pembangunan kereta cepat ini ada transfer teknologi khusunya SDM di mana kita mampu menangkap dan mengambil ilmu dari pembangunan Kereta Cepat Jakarta – Bandung.

Kereta Cepat Jakarta – Bandung milik PT KCIC merupakan percontohan dari One Belt One Road China dengan anggaran yang ditaksir Rp 85 triliun. Visi memajukan peradaban transportasi dan membangun perkonomian serta aktivitas sebagai semangatnya. Namun, di tengah pembuatan ini banyak warga yang protes karena terkena imbas pembagunan ini. Bahkan aktivis pemerhati lingkungan menyebutkan bahwa Analisa Dampak Lingkungan cukup prematur. Di sisi lain, PT KCIC sudah mengklaim bahwa mereka sudah menjalankan proyek ini sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, serta bisa dipertanggung jawabkan. Adapun masyarakat yang tidak menolak sepenuhnya dengan pembangunan ini. Akan tetapi, mereka berharap agar proyek ini berjalan dengan sebaiknya tanpa mengganggu kelangsungan hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *